Stress Kerja: Pengertian, Dampak, Jenis, dan sumber


Dalam dunia kerja, sering timbul (muncul) berbagai masalah sehubungan dengan stres dan kondisi-kondisi yang dapat memicu terjadinya stres. Baik disadari maupun tidak, pekerjaan seseorang menimbulkan stres pada dirinya. Hal ini pasti akan tampak dalam kurun waktu yang panjang, karena memang manusia setiap harinya berkecimpung di tempat kerjanya lebih dari sepertiga kali waktunya.
Dampak stres 
Stres kerja sering menimbulkan masalah bagi tenaga kerja, baik pada kelompok eksekutif (white collar workers) maupun kelompok pekerja biasa (blue collar workers). Stres kerja dapat mengganggu kesehatan tenaga kerja, baik fisik maupun emosional. Hal itu juga didukung oleh Sullivan dan Bhagat (1992) dalam studi mereka mengenai stres kerja (yang diukur dengan role ambiguity, role conflict, dan role overload) dan kinerja, pada umumnya ditemukan bahwa stres kerja berhubungan secara negatif dengan kinerja. Stres mempunyai posisi yang penting dalam kaitannya dengan produktivitas sumberdaya manusia, dana dan materi. Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada dalam diri individu, stres juga dipengaruhi oleh faktor-faktor dari organisasi dan lingkungan. Hal ini perlu disadari dan dipahami. Pemahaman akan sumber-sumber dan penyebab stres di lingkungan pekerjaan disertai pemahaman terhadap penanggulangannya adalah penting baik bagi para karyawan maupun para eksekutif untuk kelangsungan organisasi yang sehat dan efektif. Tenaga kerja merupakan salah satu aset perusahaan yang paling utama, oleh karena itu perlu dibina secara baik. Stres pada karyawan sebagai salah satu akibat dari bekerja perlu dikondisikan pada posisi yang tepat agar kinerja mereka juga pada posisi yang diharapkan. 
Jenis-jenis Stres 
Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu: • Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi. • Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian. 
Pengertian Stres Kerja 
Definisi stres kerja dapat dinyatakan sebagai berikut :“Work stress is an individual’s response to work related environmental stressors. Stress as the reaction of organism, which can be physiological, psychological, or behavioural reaction” (Selye, dalam Beehr, et al., 1992: 623) Berdasarkan definisi di atas, stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Seperti yang telah diungkapkan di atas, lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja. 
Sumber-sumber Stres Kerja 
Banyak ahli mengemukakan mengenai penyebab stres kerja itu sendiri. Soewondo (1992) mengadakan penelitian dengan sampel 300 karyawan swasta di Jakarta, menemukan bahwa penyebab stres kerja terdiri atas 4 (empat) hal utama, yakni: 1. Kondisi dan situasi pekerjaan 2. Pekerjaannya 3. Job requirement seperti status pekerjaan dan karir yang tidak jelas 4. Hubungan interpersonal Luthans (1992) menyebutkan bahwa penyebab stres (stressor) terdiri atas empat hal utama, yakni: 1. Extra organizational stressors, yang terdiri dari perubahan sosial/teknologi, keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, dan keadaan komunitas/tempat tinggal. 2. Organizational stressors, yang terdiri dari kebijakan organisasi, struktur organisasi, keadaan fisik dalam organisasi, dan proses yang terjadi dalam organisasi. 3. Group stressors, yang terdiri dari kurangnya kebersamaan dalam grup, kurangnya dukungan sosial, serta adanya konflik intraindividu, interpersonal, dan intergrup. 4. Individual stressors, yang terdiri dari terjadinya konflik dan ketidakjelasan peran, serta disposisi individu seperti pola kepribadian Tipe A, kontrol personal, learned helplessness, self-efficacy, dan daya tahan psikologis. Sedangkan Cooper dan Davidson (1991) membagi penyebab stres dalam pekerjaan menjadi dua, yakni: • Group stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari situasi maupun keadaan di dalam perusahaan, misalnya kurangnya kerjasama antara karyawan, konflik antara individu dalam suatu kelompok, maupun kurangnya dukungan sosial dari sesama karyawan di dalam perusahaan. • Individual stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari dalam diri individu, misalnya tipe kepribadian seseorang, kontrol personal dan tingkat kepasrahan seseorang, persepsi terhadap diri sendiri, tingkat ketabahan dalam menghadapi konflik peran serta ketidakjelasan peran. Cooper (dalam Rice, 1999) memberikan daftar lengkap stressor dari sumber pekerjaan yang tertera pada tabel berikut: Stressor Dari Stres Kerja Faktor Yang Mempengaruhi (Hal-hal Yang Mungkin Terjadi Di Lapangan) Konsekuensi Kondisi Yang Mungkin Muncul Kondisi pekerjaan • Beban kerja berlebihan secara kuantitatif • Beban kerja berlebihan secara kualitatif • Assembly-line hysteria • Keputusan yang dibuat oleh seseorang • Bahaya fisik • Jadwal bekerja • Technostress • Kelelahan mental dan/atau fisik • Kelelahan yang amat sangat dalam bekerja (burnout) • Meningkatnya kesensitivan dan ketegangan
Stress karena peran • Ketidakjelasan peran • Adanya bias dalam membedakan gender dan stereotype peran gender • Pelecehan seksual • Meningkatnya kecemasan dan ketegangan • Menurunnya prestasi pekerjaan 
Faktor interpersonal • Hasil kerja dan sistem dukungan sosial yang buruk • Persaingan politik, kecemburuan dan kemarahan • Kurangnya perhatian manajemen terhadap karyawan • Meningkatnya ketegangan • Meningkatnya tekanan darah • Ketidakpuasan kerja 
Perkembangan karir • Promosi ke jabatan yang lebih rendah dari kemampuannya • Promosi ke jabatan yang lebih tinggi dari kemampuannya • Keamanan pekerjaannya • Ambisi yang berlebihan sehingga mengakibatkan frustrasi • Menurunnya produktivitas • Kehilangan rasa percaya diri • Meningkatkan kesensitifan dan ketegangan • Ketidakpuasan kerja 
Struktur organisasi • Struktur yang kaku dan tidak bersahabat • Pertempuran politik • Pengawasan dan pelatihan yang tidak seimbang • Ketidakterlibatan dalam membuat keputusan • Menurunnya motivasi dan produktivitas • Ketidakpuasan kerja 
Tampilan rumah-pekerjaan • Mencampurkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi • Kurangnya dukungan dari pasangan hidup • Konflik pernikahan • Stres karena memiliki dua pekerjaan • Meningkatnya konflik dan kelelahan mental • Menurunnya motivasi dan produktivitas • Meningkatnya konflik pernikahan 
Dampak Stres Kerja Pada umumnya stres kerja lebih banyak merugikan diri karyawan maupun perusahaan. Pada diri karyawan, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustrasi dan sebagainya (Rice, 1999). Konsekuensi pada karyawan ini tidak hanya berhubungan dengan aktivitas kerja saja, tetapi dapat meluas ke aktivitas lain di luar pekerjaan. Seperti tidak dapat tidur dengan tenang, selera makan berkurang, kurang mampu berkonsentrasi, dan sebagainya. Sedangkan Arnold (1986) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat terjadi akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan psikologis, performance, serta mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan. Penelitian yang dilakukan Halim (1986) di Jakarta dengan menggunakan 76 sampel manager dan mandor di perusahaan swasta menunjukkan bahwa efek stres yang mereka rasakan ada dua. Dua hal tersebut adalah: • Efek pada fisiologis mereka, seperti: jantung berdegup kencang, denyut jantung meningkat, bibir kering, berkeringat, mual. • Efek pada psikologis mereka, dimana mereka merasa tegang, cemas, tidak bisa berkonsentrasi, ingin pergi ke kamar mandi, ingin meninggalkan situasi stres. Bagi perusahaan, konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah meningkatnya tingkat absensi, menurunnya tingkat produktivitas, dan secara psikologis dapat menurunkan komitmen organisasi, memicu perasaan teralienasi, hingga turnover (Greenberg & Baron, 1993; Quick & Quick, 1984; Robbins, 1993). 
Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1999) mengkaji ulang beberapa kasus stres pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu: 
1. Gejala psikologis Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai stres pekerjaan : • Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung • Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian) • Sensitif dan hyperreactivity • Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi • Komunikasi yang tidak efektif • Perasaan terkucil dan terasing • Kebosanan dan ketidakpuasan kerja • Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi • Kehilangan spontanitas dan kreativitas • Menurunnya rasa percaya diri 
2. Gejala fisiologis Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah: • Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular • Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin) • Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung) • Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan • Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome) • Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada • Gangguan pada kulit • Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot • Gangguan tidur • Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker 
3. Gejala perilaku Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah: • Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan • Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas • Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan • Perilaku sabotase dalam pekerjaan • Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas • Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi • Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi • Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas • Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman • Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri

Sumber

Arnold, Fieldman. (1996). The School Manager. North Sidney Australis:Allen and UnwinLtd

Cooper, C. L., Dewe, P. J., & O’Driscoll, M. P. (1991). Organizational Stress: A Review and Critique of Theory, Research, and Applications. California : Sage Publications, Inc.

Johnson,M. (2009). Community college students’ perception of stress. Journal of Biology of Excercise, (1), 15-28.

Lazarus,R.S.(1966). Psycological stress and coping process. McGraw-Hill : New York. 

Quick, J. C., & Quick, J. D. (1984). Organizational Stress And Preventive Management. USA: McGraw-Hill, Inc.

Rice, P.L. (1999). Stress and Health. United States of America: Brooks/Cole Publishing company. 

Sullivan, S., & Bhagat, R. (1992). Organizational Stress, Job Satisfication and Job Performance : Where Do We Go From Here ? Journal of Management, 361-364.
Next Post Previous Post
4 Comments
  • Unknown
    Unknown 12 Januari 2021 23.03

    nice article bro...

    • FillArt
      FillArt 13 Januari 2021 21.30

      yesss

  • FillArt
    FillArt 13 Januari 2021 04.05

    thank you

  • Fillamentum
    Fillamentum 13 Januari 2021 23.42

    work from home can coused stress...lol

Add Comment
comment url