Musik dan Proses Kehidupan Manusia


Setelah kita mengetahui tentang efek musik yang telah saya post terdahulu, ada baikya kita mengetahui apa dan darimana 'sih' musik itu....yuk kita lanjuuuut.
Musik (Music) bersumber dari asal kata “muse”. Kata “muse” yang kemudian diambil alih ke dalam bahasa Inggris jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai bentuk “renungan”. Menurut mitologi Yunani, sembilan saudara perempuan “muse” yang kemudian melahirkan lagu, puisi, seni, dan pengetahuan, lahir dari hasil perkawinan Dewa Zeus dan Dewi Mnemosyne. Zeus adalah dewa segala dewa, dan Mnemosyne adalah dewi ingatan. Jadi musik adalah putra kasih sayang dan keindahan, kemegahan, dan kekuatanya memiliki hubungan langsung dengan dunia para dewa. Hal ini mendeskripsikan bahwa telah berabad-abad lamanya manusia sesungguhnya menyadari bahwa musik memiliki dampak spiritual yang besar bagi kesejahteraan manusia. Musik lahir dari kecintaan manusia pada kehidupan dan dilandasi oleh ingatan manusia akan pengalaman-pengalaman hidupnya (Campbell, 1977).
Pada era akhir abad ke 20 sejumlah pakar ilmu pengetahuan telah memperoleh berbagai bukti tentang manfaat musik bagi kesehatan manusia, mulai dari proses perkembangan janin sampai pada proses menjelang kematian. Habermeyer (1999) menjelaskan bahwa musik merupakan salah satu bentuk stimulus yang dapat merangsang respon bayi pada saat awal kehidupan mereka dan merupakan salah satu bentuk stimulus terakhir yang dikenal seseorang pada saat menjelang ajalnya. Ortiz (1997) menceritakan bagaimana pengalamannya ketika ia tengah menunggui ayahnya di saat-saat terakhir sebelum ayahnya meninggal. Ketika Ortiz menanyakan pada ayahnya apakah sebaiknya ia mematikan musik yang tengah diputar pada saat itu, tetapi ayahnya melarang untuk melakukan hal tersebut. Sebaliknya ayahnya bahkan mengatakan bahwa selama ia masih mendengar, ia sadar bahwa dirinya hidup, dan kalaupun ia mati namun masih mampu mendengar musik, maka kematian pun tidak akan terlalu buruk baginya.
Demikian pula Habermayer (1999) menjelaskan, bahwa orang-orang yang mengalami peristiwa menjelang ajal (near death experience), setelah mereka dapat terselamatkan, mereka melaporkan bahwa pada situasi menjelang kematian tersebut mereka mendengar suara-suara seperti musik. Campbell (1997) mengatakan bahwa musik dapat mengangkat suasana jiwa seseorang (music can uplift our soul). Karena, melalui musik kasih sayang serta doa di dalam diri sesseorang dapat dibangkitkan. Musik merupakan salah satu media bagi diri seseorang untuk dapat merasakan kasih sayang, keagungan Illahi, serta semesta alam, dan melakukan transformasi diri ke alam spiritual.
Di dalam tradisi masyarakat Irlandia, musik menjadi bagian dari suasana perkabungan mereka. Donnelly (1999) melakukan interviu terhadap 40 orang pedesaan Irlandia yang masih mempertahankan adat kebiasaan mereka dan berkomunikasi dengan bahasa utama Gaelic (bahasa tradisional Irlandia) di samping bahasa Inggris. Para responden menjelaskan bahwa kematian pada masyarakat mereka bukanlah merupakan sesuatu yang harus ditakutkan, melainkan merupakan bagian dari proses kehidupan itu sendiri. Di dalam perkabungan sekalipun, mereka tidak menghindari kebiasaan humor, sebaliknya justru melibatkan aspek humor di dalam percakapan mereka. Adapun musik-musik yang mereka perdengarkan justru yang lebih bersifat membangkitkan gairah hidup dan bukan musik pengantar orang mati (reguiem). Hal ini memberikan suatu gambaran bahwa di dalam proses perkabungan pada masyarakat tersebut mereka tidak terpaku kepada anggota keluarga yang meninggal, tetapi mereka menaruh perhatian kepada keluarga yng ditinggalkan. Musik yng lebih membangkitkan gairah hidup ini sesungguhnya ditujukan pada anggota keluarga yang ditinggalkan agar mereka tidak tidak terperangkap dalam duka yang berkepanjangan. Wah hebat juga tuh peneliti sampe bisa neliti orang mau mati pake musik....heheeheeheee. Otre d tulisan berikutnya akan saya bahas ttg pengaruh musik terhadap yang lainnya, so don't miss it...Namaste..

Sumber
Campbell, D. (1997). The Mozart Effect. New York: Avon Books.
Habermeyer, S. (1999). Good Music brighter children. Rocklin, CA: Prima Publishing
Ortiz, J, M. (1997). The Tao of Music: Sound Psychology. York Beach, ME: Samuel Weiser.
Next Post Previous Post
3 Comments
  • lista lis gallery
    lista lis gallery 3 Oktober 2009 19.39

    thanks ya sudah berbagi.. :)

    salam kenal,

    Lista

  • FillArt
    FillArt 29 Oktober 2009 02.24

    Sama2, oiya terimakasih sudah mau mampir...lam kenal juga...

  • marlin
    marlin 14 Januari 2021 01.15

    what is the different beetwen sound & music?

Add Comment
comment url