Pengertian Self Injury Beserta Contohnya


Self Injury adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan individu untuk mengatasi rasa sakit secara emosional untuk melukai diri sendiri,dilakukan dengan sengaja tapi tidak dengan tujuan bunuh diri, self injury biasa dilakukan sebagai bentuk dari pelampiasan emosi yang terlalu menyakitkan untuk diungkapkan dengan kata-kata. self injury memang menyebabkan luka fisik pada tubuh, perilaku ini bertujuan untuk mencapai pembebasan diri dari emosi yang tak tertahankan, perasaan bahwa dirinya tidak nyata dan mati rasa, dan apabila self injury tidak ditangani secara cepat maka self injury dapat berubah menjadi usaha bunuh diri yang nyata.

Self Injury dalam istilah lain dikenal sebagai Self Harm
bentuk paling umum dari self injury adalah membuat irisan dangkal pada lengan atau tungkai;

Perilaku ini juga Meliputi Pemotongan Bagian pada Tubuh Tertentu yaitu:

  • Meninju, memukul dan mencakar diri sendiri
  • Menggigit tangan, lengan, bibir, atau lidah
  • Menggaruk-garuk kulit sampai berdarah
  • Mengutak-atik luka yang sedang dalam proses penyembuhan
  • Mememarkan tubuh lewat kecelakaan yang sudah direncanakan
  • Membakar diri baik dalam bentuk ringan misal dengan rokok,maupun pembakaran tubuh secara meluas
  • Menusuk diri sendiri dengan kawat, peniti, paku, pulpen dan lainnya.
  • Mematahkan tulang mereka sendiri
  • Mencungkil mata
  • Menelan bahan kimia korosif, baterai, obat nyamuk, racun
  • Menggigiti kuku
  • Memencet jerawat
  • Mengiris tangan atau kaki (tangan & kaki biasanya menjadi sasaran utama, begitu juga dengan dada, perut, paha, alat kelamin, kadang mereka menorehkan ka-kata pada kulit mereka misalnya gendut, jelek,untuk memproyeksikan perasaan mereka.)
  • Memukul tembok atau membenturkan kepala kelantai
  • Menguliti wajah
  • Mengamputasi anggota badan, payudara, jari, alat kelamin
  • Menindik bagian tubuh yang sensitif
  • Menggaruk bekas gigitan nyamuk sampai berdarah
  • Meminum obat-obatan terlarang (narkoba), dan alkohol.

Tindakan tersebut bukanlah untuk bunuh diri namun untuk mengatasi stress dan emosional yang sudah tak tertahankan. Banyak kesalahan persepsi orang lain terhadap pelaku self injury, mereka berfikir para pelaku self injury melakukan self injury demi untuk mencari perhatian semata, sedangkan dalam kenyataannya banyak pelaku self injury yang sangat tidak nyaman dgn keberadaan bekas luka parut pada tubuhnya dan umumnya mereka berusaha menyembunyikan bekas luka itu dari orang lain, dengan cara memakai baju lengan panjang atau celana/rok panjang dan ada juga yang menyamarkan bekas luka dengan peralatan make up. 


Perilaku self injury dapat terjadi tanpa mengenal wilayah, budaya batasan kelas sosial, seseorang lebih memilih untuk melukai dirinya sendiri karena kurang memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosinya. 


Self injury berfungsi untuk mengatasi penderitaan batin, saat mereka melakukan self injury rasa sakit, stress, emosi yang ada di dalam dirinya akan hilang dan terlupakan berganti dengan rasa sakit fisik akibat luka yang di dapat akibat perilaku self injury itu sendiri.

Berdasarkan Teori Model Ketergantungan Alderman; Pada 6 Orang Subjek Pelaku Self Injury Dengan Usia 20-25 Tahun, Hasil Penelitian Menunjukan Bahwa Subjek Cenderung :

  • Memendam emosi dan masalah mereka sejak sebelum terlibat ke dalam self injury
  • Di penuhi luapan emosi negatif pada masa transisi ( pencarian jati diri)
  • Pengaruh disosiasi selama melakukan self injury sehingga sulit untuk mengenali emosinya saat itu
  • Subjek mengalami perasaan lega dan tenang setelah self injury dilakukan
  • Mengalami penyesalan dan rasa bersalah atas tindakan yang dilakukan

Para pelaku self injury memiliki berbagai pandangan tentang perilaku mereka, kebanyakan setuju bahwa perilaku itu merusak, tetapi mereka merasa tidak bisa berhenti karena merasa nyaman yang diperoleh dari perilaku self injury ini. Beberapa dari mereka merasa bangga akan "prestasi" dan nilai seni yang mereka yakni terpencar dari luka-luka mereka, tetapi beberapa dari mereka mersa sangat malu akan bekas luka-luka mereka dan berharap mereka dapat menghilangkan bekas-bekas luka yang ada pada tubuh mereka.


Para pecandu narkoba biasanya juga erat dengan perbuatan self injury, karena pada dasarnya mereka benci terhadap diri mereka sendiri, merasa gagal sebagai seorang manusia. Satu hal yang umum ditemukan di antara pelaku self injury baik pria maupun wanita adalah kebencian mereka akan tubuh mereka. Bagi para wanita hal ini biasanya meningkat tajam saat mereka seang menstruasi tetapi secara keseluruhan mereka benci sekali pada tubuh mereka, mereka benci pada refleksi diri mereka yang mereka lihat di cermin.

Karakteristik Pelaku Self Injury

  • Kesulitan mengendalikan impuls diberbagi area yang terlihat dalam gangguan makan atau aiksi terhadap zat-zat adiktif
  • Pernah menderita penyakit kronis sewaktu kecilatau cacat
  • Sangat tidak menyukai dirinya sendiri
  • Hypersensitive terhadap penolakan
  • Memiliki kemarahan yang kronis terhadap diri sendiri
  • Bertendensi menekan kemarahan
  • Memiliki perasaan agresif yang tinggi
  • Umumnya depresi atau stress berat
  • Mengidap kecemasan kronis
  • Sering mengalami iritabilitas
  • Bertendensi untuk menghindar
  • Tidak bisa mengontrol diri untuk bertahan hidup
  • Kurangnya kemampuan untuk menjaga atau membentuk hubungan yang stabil
  • Takut akan perubahan
  • Tidak ada kemauan untuk mengurus diri sendiri dengan baik
  • Memiliki self esteem yang rendah
  • Masa kecil penuh trauma
  • Pola pemikiran yang kaku

Latar Belakang Pelaku Self Injury

  • Adanya kehilangan yang mengakibatkan traumatis, sakit keras,ketidak stabilan dalam hidup berkeluarga( keluarga Nomaden, orang tua Divorce)
  • Adanya pengabaian dan penganiayaan, baik secar fisik, seksual maupun emosional
  • Kehidupan keluarga dipenuhi keyakinan agama yang kaku nilai-nilai yang dogmatis , yang diterapkan dengan cara yang munafik dan tidak konsisten
  • Peran yang terbalik dalam keluarga: misalnya si anak mengambil alih tanggung jawab orang dewasa di usia dini

Cita Diri Self Injury

Self injury tidak pandang bulu yang sama-sama mereka miliki adalah hubungan penuh siksaan antara pikiran dan tubuh mereka, khususnya oragan seksual mereka. Kesedihan mereka diperparah dengan pelajaran-pelajaran membingungkan yang mereka dapatkan tantang seksualitadan peran gender.
Para wanita yang pernah terancam secara seksual menjadi sangat ketakutan sampai ia sengaja membuat dirinya tidak menarik, misalnya dengan memakai pakaian gombrong atau pakaian pria, mencukur atau membotaki kepala mereka, atau mencacati diri, beberapa wanita bahkan memasuki benda-benda tajam ke dalam vagina. Mereka berpikir bahwa “pencegahan” ini juga akan menyakiti diri mereka sendiri selain mungkin rang yang menyerangnya.


Hal-hal ini yang membuat para pelaku self injury merasa bahwa ia memegang kendali atas kerusakan yang timbul, mereka mengatakan bahwa mereka lebih baik menyakiti diri sendiri dari pada di sakti orang lain.


Menurut Yates saat ini belum bisa menunjukan bahwa seseorang melakukan self injury karena mempelajarinya dari orang lain, meskipun bukti-bukti yang pasti saat ini menunjukan bahwa kebanyakan pelaku menemukan pola perilaku self injury ini secara tidak sengaja sebagai contoh: Conterir & Favazza , menemukan bahwa 91% pelaku self injury melakukannya setelah mengetahui dari orang lain atau membacanya di salah satu media sebelum memutuskan untuk terlibat dalam perilaku self injury ini.


Hingga saat ini tidak terdapat kesepakatan secara internasional mengenai definisi self injury. Secara ringkas self injury didefinisikan sebagai mekanisme coping yang digunakan seorang individu untuk mengatasi rasa sakit secara emosional atau menghilangkan rasa kekosongan kronis dalam diri dengan memberikan sensasi pada diri sendiri.


Self injury merupakan mekanisme coping yang kejam dan merusak namun banyak orang melakukannya karena memang mekanisme tersebut bekerja dan bahkan bisa menyebabkan kecanduan. Dalam pendefinisian lain dikatakan bahwa self injury merupakan segala tindakan melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja tanpa adanya maksud membunuh dirinya ataupun tidak berhubungan dengan kepentingan estetika (misal tato) dan sanksi sosial dengan tujuan membebaskan diri dari distres emosional.


Ebooknya bisa Download Di Sini


Sumber

  1. Caperton, Barbara. 2004. What School Counselors Should Know About Self Injury Among Adolescents: A Literature Review. A Research Paper: University of Wisconsin-Stout.
  2. Centario, Karen, Wendy Lader dan Jennifer Kingson Blomm. 1998. Bodily Harm: The Breakthrough Healing Program for Self-Injurers. New York: Hyperion.
  3. Favazza, Armando R. 1996. Bodies Under Siege: Self Mutilation and Body Modification in Culture and Psychiatry. Baltimore: The Jhons Hopkins University Press.
  4. Mazelis, Ruta. 2008. Self-Injury: Understanding and Responding to People Who Live with Self-Inflicted Violence. Article of Mental Health. National Center For Trauma-Informed Care (NCTIC).

Next Post Previous Post
5 Comments
  • FillArt
    FillArt 10 Januari 2021 00.53

    ceritanya habis nonton pilem 28 days dan secret cut, jadi pengen nulis artikel ini..

  • Unknown
    Unknown 12 Januari 2021 23.07

    girl interupted is a nice movie to watch to bro....

  • FillArt
    FillArt 13 Januari 2021 04.01

    young angelina jolie....

  • Woody Doedit
    Woody Doedit 12 Oktober 2021 17.23

    Menarik ... njuk piye? Apakah perilaku itu sebaiknya diilangin, diredam, atau dibiarin aja?

    • FillArt
      FillArt 12 Oktober 2021 17.52

      dikendalikan mawon pak

Add Comment
comment url