SIKAP: Definisi, Teori Pembentukan Sikap, Model, Bentuk, Pengukuran, Perubahan (episode 2)

Definisi Sikap

Sikap didefinisikan sebagai posisi yang diambil dan dihayati seseorang terhadap benda, masalah atau lembaga.
Sikap adalah sebuah reaksi evaluatif (suatu penilaian) mengenai kesukaan dan ketidaksukaan seseorang terhadap orang, peristiwa atau aspek lain dalam lingkungannya.
Sikap merupakan posisi yang tidak netral mengenai suatu objek. Sikap akan selalu positif (bagus, setuju) atau negatif (buruk, menolak), tetapi t idak pernah netral. Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap memiliki ciri khas, yaitu:
  • 1. Mempunyai objek tertentu (orang, perilaku, konsep, situasi dan benda)
  • 2. Mengandung penilaian (setuju-t idak setuju, suka-tidak suka)
Sikap terbentuk dari berbagai kesimpulan yang kita peroleh tentang pengalaman di masa lalu, untuk mempermudah pilihan perilaku kita nantinya.
Sebagaian besar pakar berpendapat bahwa sikap adalah sesuatu yang dipelajari (bukan bawaan). Oleh karena itu, sikap lebih dapat dibentuk, dikembangkan, dipengaruhi atau diubah. Sikap berbeda dari sifat (trait) yang lebih merupakan bawaan dan sulit diubah. 

MODEL-MODEL SIKAP

1. Model Satu Dimensi (One-Dimensional Model)

Model ini merupakan model yang paling sederhana dalam menjelaskan sikap secara langsung, dalam arti suka atau tidak suka terhadap objek tertentu. Sikap di sini sangat jelas, positif atau negatif sehingga hal ini dapat menjelaskan anda memilih untuk tidak menonton film tentang kekerasan karena anda memang tidak menyukainya (anda memiliki sikap negat if tentang film kekerasan) dan akibatnya, anda akan menghindari film yang banyak menampilkan kekerasan.

2. Model Tiga Komponen (Three-Component Model)

Model ini menjelaskan sikap dalam jangkauan yang lebih luas berdasarkan pengalaman 
psikologi. Di sini dijelaskan, sikap menyangkut tiga dimensi, yaitu: 

  • a) Pengalaman kognitif (seperti kepercayaan)
  • b) Pengalaman afektif (emosi)
  • c) Perilaku (pilihan dan tindakan).
Model ini menjelaskan sikap dalam jangkauan yang lebih luas berdasarkan pengalaman 
psikologi. Di sini dijelaskan, sikap menyangkut tiga dimensi, yaitu:
  • a) Pengalaman kognit if (seperti kepercayaan)
  • b) Pengalaman afekt if (emosi)
  • c) Perilaku (pilihan dan t indakan).
Misalnya:
Ketidaksukaan kita terhadap rokok berkembang menjadi tiga jenis informasi sebagai berikut:
  • Pertama kita tahu dan percaya bahwa asap rokok memiliki efek yang t idak baik untuk kesehatan. Dari kepercayaan itu, kita akan merasa tidak nyaman saat berada di antara orang-orang yang merokok. Hal itu berakibat pada perilaku kita, misalnya langsung menghindar atau pergi ketika tahu ada teman kita yang merokok.
  • Kedua, Penilaian negatif yang kita miliki itu membawa konsekuensi lain. Pertama, kita akan memiliki kepercayaan negat if tentang rokok. Kedua, kita akan mengalami emosi yang tidak menyenangkan saat berada di antara perokok. Ket iga, saat kita tahu ada teman kita yang akan merokok kita akan menghindarinya. 
  • Ketiga, Perilaku menjadi konsekuensi dari sikap merupakan hal yang penting karena menunjukkan bahwa sikap seseorang dapat memperkirakan seperti apa perilakunya di masa datang. Misalnya saat ktia tahu bahwa kita memiliki sikap negatif tentang rokok, mereka tidak akan merokok di sekitar kita.

ASPEK-ASPEK SIKAP

Ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap terdiri dari tiga bagian (domain), yaitu:
Kognitif, Afektif dan Perilaku. Myers memberikan istilah . Ini kependekan Affective (Perasaan), Behavior (Perilaku) dan Cognitive (Kesadaran). Ketiga domain ini saling terkait erat sehingga timbul teori bahwa jika kita dapat mengetahui kognisi dan perasaan seseorang terhadap suatu objek tertentu, kita akan tahu pula kecenderungan perilakunya.
Jadi, sikap dapat meramalkan perilaku. Namun, dalam banyak kasus kita menemukan bahwa
sikap tidak selalu sesuai dengan perilaku. Misalnya, seorang anak yang sangat benci sekolah
(sikap negat if) tetap saja bersekolah terus (bisa jadi karena dipaksa orang tuanya, diancam
guru, tidak tahu lagi apa yang dilakukannya jika t idak sekolah).

PENGUKURAN SIKAP

Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk mengukur sikap. Di bawah ini akan dikemukakan tiga skala pengukuran sikap, yaitu:

1. Skala Thurstone

Dalam skala ini, seorang peneliti mengembangkan serangkaian pertanyaan tentang sikap
objek. Setiap pertanyaan kemudian disusun ke dalam urutan secara numerik menurut skala
positif-negatif menunjukkan sikap yang amat positif.
Skala Thurstone disusun dengan meminta responden untuk membaca daftar pertanyaan yang
ada dan memberikan tanda atau poin pada pertanyaan yang mereka setujui. Dari situ,poin-poin yang telah mereka pilih akan dihitung dan dicari rata-ratanya untuk memperoleh skor
sikap seseorang.

2. Skala Likert

Skala ini lebih sering digunakan dari pada skala Thurstone. Skala pengukuran Likert merupakan skala pengukuran yang mengembangkan pernyataan sikap. Responden kemudian memilih satu angka dari skala setuju sampai t idak setuju. Jumlah dari angka yang dipilih menunjukkan sikap responden terhadap hal yang dimaksud.

3. Skala Semantik Differential

Dasar teori dari skala ini adalah bahwa sikap orang terhadap suatu objek dapat diketahui jika kita mengetahui konotasi (arti psikologik) dari kata yang melambangkan objek sikap itu. 
Satu sikap tertentu bisa memiliki makna atau kualitas evaluasi yang berbeda. Dalam teknik 
ini responden diminta untuk mengurutkan satu objek sikap dalam beberapa skala yang 
berbeda secara semantik. Misalnya: responden memberikan nilai terhadap iklan permen 
sebagai berikut:
  • Baik 1 2 3 4 5 Buruk
  • Bagus 1 2 3 4 5 Jelek
  • Jujur 1 2 3 4 5 Tidak Jujur

TEORI PEMBENTUKAN SIKAP

Idealnya sikap dibentuk dari pengalaman seseorang yang akan berfungsi sebagai penuntun untuk perilakunya di masa datang. Para peneliti telah mengident ifikasikan tiga jenis pendekatan dalam memahami pembentukan sikap manusia, yaitu:

1) Pendekatan Belajar (Learning Approaches)

Sikap biasanya terbentuk lewat proses pembelajaran, suatu proses di mana pengalaman dan praktik menghasilkan perilaku yang relat if sama atau tetap. Proses pembelajaran ini secara umum diident ifikasikan dalam pembentukan sikap melalui hal berikut:
  • a) Asosiasi
  • b) Peneguhan
  • c) Belajar sosial
Berikut Penjelasannya

a) Asosiasi

Asosiasi mengacu pada proses menghubungkan pengalaman-pengalaman yang amat dekat dari segi waktu, ruang, atau keadaan. Terdapat dua bentuk pembentukan sikap melalui asosiasi, yaitu:


I. Classical Conditioning

Sikap bisa saja merupakan serangkaian ide, perasaan, dan keinginan yang kompleks. Namun, sikap bisa juga terbentuk dengan mengasosiasikan satu pengalaman dengan yang lain dan membuat respons yang umum terhadapnya. Belajar untuk membuat 
respons yang sama pada st imuli baru yang diasosiasikan pada stimulus sebelumnya 
disebut Classical Conditioning.

Contohnya:

Seorang anak diminta untuk mengikuti les matematika oleh orang tuanya. Sementara anak tsb tahu bahwa matemat ika amat membosankan. Apalagi jika anak tsb belajar dengan suasana yang tidak menyenangkan karena gurunya galak berdasarkan hal tsb, anak akan berfikir, dengan ikut les matemat ika ia akan berada dalam situasi yang tidak nyaman. Sehingga anak akan berusaha mencari alasan untuk menghindari les matematika. Ia memiliki pengalaman buruk pada matematika dan akhirnya membentuk sikap penolakan.


II. More Exposure

Pembentukan sikap yang paling jelas dapat dibentuk lewat pengalaman yang berulang-ulang dengan objek sikap, sepert i manusia atau tampilan lingkungan yang sering kali ditemui. 
Menurut psikolog Zajonc, terpaan yang berulang-ulang itu biasanya akan menghasilkan perasaan posit if. Misalnya, iklan televisi yang sering kali kita tonton bisa berdampak pada kesukaan kita terhadap produk yang diiklankan. Apalagi kalau kita beranggapan produk itu memang dibutuhkan dan menarik.


b) Peneguhan (Reinforcement)

Sikap bisa dipelajari dari pengalaman pribadi karena ada konsekuensi-konsekuensi tertentu yang bisa diambil dari sana. Misalnya, kita tahu bahwa saat kita mengikut i mata kuliah psikologi, kita amat menikmatinya sehingga bisa memperoleh nilai tinggi. Dari hal ini dapat dilihat bahwa ada semacam peneguhan dalam mengembangkan sikap positif terhadap psikologi. Peneguhan merupakan segala macam konsekuensi dari pengalaman kita yang nant inya bisa menghasilkan perilaku tertentu, seperti kecenderungan untuk mengambil hal yang disukai.

Terdapat dua faktor yang menimbulkan peneguhan, yaitu:

  • Pengaruh keluarga
  • Kelompok bermain (peer group) dan kelompok acuan (reference group).

c) Belajar Sosial (Social Learning)

Proses belajar sosial (social learning) dari Bandura menjelaskan bahwa beberapa sikap yang dihasilkan bisa diperoleh dari hasil asosiasi pasif atau pengaruh persuasif dari orang-orang yang setuju atau sepihak dengan kita. Biasanya manusia secara aktif mencari informasi dan pengalaman yang menjadi dasar untuk bersikap dan berperilaku. Bentuk pendekatan belajar sosial yang paling umum berhubungan pada proses pengamatan terhadap konsekuensi dari perilaku orang lain (vicarious learning) dan proses modeling, yaitu proses belajar untuk meniru perilaku orang lain.
Pada proses vicarious learning, manusia belajar membentuk sikap baru dengan mengamati apa yang dilakukan atau terjadi pada orang lain dalam melakukan hal itu. 

Misalnya:

Anak berusia 14 tahun bisa saja tidak terlalu memahami apa artinya homoseksualitas, akan tetapi ia melihat orang-orang yang dikucilkan oleh orang sekitar. Dengan demikian ia akan belajar membentuk sikap menghindari kaum homoseksualitas Gay.
Manusia cenderung memiliki orang lain yang mereka kagumi, yang biasa disebut sebagai 
kelompok orang pemberi aspirasi (Aspirational Reference Group). Dalam proses modelling ini, manusia akan cenderung untuk membentuk kehidupan sosial kita dengan meniru (mengimitasi) kebiasaan-kebiasaan dan selera ataupun gaya hidup mereka yang kita kagumi.

2) Pendekatan Konsistensi Kognitif (Cognitive Consistency)

Teori-teori konsistensi kognit if berpangkal pada sebuah proposisi umum, yaitu bahwa kognisi (pengetahuan, kesadaran) yang tidak sesuai dengan kognisi-kognisi lain menimbulkan keadaan psikologik yang tidak menyenangkan dan keadaan ini mendorong orang untuk bertingkah laku agar tercapai konsistensi antar kognisi-kognisi tersebut, hal yang mana menimbulkan rasa senang. 
Keadaan inkonsistensi, misalnya terjadi apabila kita melihat seorang menteri sedang makan di warteg. Menteri dan warteg adalah dua kognisi (kesadaran) yang tidak saling berkaitan, bahkan mungkin bertolak belakang. Apabila dua kognisi ini muncul sekaligus, maka timbul perasaan inkonsistensi dalam diri kita, yang menyebabkan kita perlu melakukan sesuatu agar timbul konsistensi yang menyenangkan dalam diri kita.
Seperti, melihat orang tersebut sekali lagi untuk meyakinkan bawah orang yang makan di warteg tersebut bukan menteri. Atau mengubah struktur kognitif yang ada bahwa menteri juga manusia kebanyakan yang sekali-sekali juga bisa makan di warteg. Hubungan inkonsistensi antar kognit if-kognit if diberi sebutan yang berbeda-beda, yaitu:

  • Cognitive Imbalance
  • Asymetry
  • Incongruence
  • Dissonance.


3) Pendekatan Motivasional

Menurut Weber, pendekatan motivasional disebut juga pendekatan insentif, mengasumsikan bahwa individu menilai untung rugi dalam membuat respons tertentu,termasuk memelihara dan mengekspresikan sikap tertentu. 

Dua Model yang Termasuk dalam Pendekatan ini adalah 

(a) Evaluations Models

Model ini melihat pembentukan sikap sebagai suatu hal yang dimotivasi oleh keinginan untuk memaksimalkan hal yang positif. Satu model melihat kepentingan evaluasi yang subjektif tentang sikap objek dan yang lain menekankan pada nilai yang diharapkan. 
Termasuk dalam model ini adalah Teori Respons Kognitif dan Teori Expentancy-Value. Model ini melihat pembentukan sikap sebagai suatu hal yang dimotivasi oleh keinginan untuk memaksimalkan hal yang posit if. Yang termasuk dalam model ini adalah Teori Respons Kognitif dan Teori Expentancy-Value

Teori Respons Kognitif (Cognitive Response Theory)

Salah satu cara mengembangkan sikap adalah dengan cara mendengarkan apa yang diungkapkan orang lain dan melihat apakah kita setuju atau tidak dengan mereka.
Kesepakatan atau persetujuan berarti kita memberikan satu r espons kognitif yang positif terhadap satu pernyataan, sementara ketidaksetujuan berarti ada satu respoens kognitif yang negatif. Pendekatan respons kognitif mengatakan bahwa untuk menentukan apakah kita 
melakukan suatu sikap tertentu, pertama kita akan menentukan apakah kita memberikan respons positif atau negat if terhadap bagian tertentu yang berbeda. Pada dasarnya teori ini mengatakan bahwa sikap bisa dibentuk dari perasaan subjektif kita.
Contoh: kita akan menyukai sesuatu yang memberikan kesenangan walaupun alasannya tidak bisa diterima akal.

Teori Expentancy-Value

Teori ini melihat bahwa sikap berkembang dari proses evaluasi, pertimbangan aspek positif dan negatif dari objek sikap. Teori ini memasukkan unsur tambahan, yaitu kemungkinan bahwa sikap akan membawa hasil yang baik atau buruk. 
Misalnya, kita akan tahu bahwa dalam menentukan mobil mana yang akan dibeli, anda akan mempertimbangkan tidak hanya perasaan, penampilan dan kesan yang ditimbulkan saat ini, tetapi juga mobil mana yang nant inya akan memberikan keuntungan di masa mendatang.


(b) Elaboration vs Heuristic Processing

Pembentukan sikap bisa juga dibentuk dari pent ingnya objek sikap dan keadaan di mana opini seseorang terbentuk. Beberapa ilmuan membedakan antara pembentukan sikap 
sebagai hasil dari elaborasi atau proses kognitif yang sistematis dengan mereka yang memperolehnya sebagai hasil dari proses periferal atau heuristic.

Elaborasi

Elaboration-Likelihood Model merupakan suatu pemahaman teori yang penting mengenai bagaimana sikap bisa berubah sebagai respons dalam komunikasi persuasif. Model elaborasi disebut juga model sentral atau model proses sistematis. Pemahaman ini juga memiliki implikasi untuk perkembangan maupun perubahan sikap. Menurut model ini, manusia akan cenderung untuk lebih berpikir sebelum menentukan sikap mereka dalam beberapa kondisi dari pada yang lain. Dalam kondisi yang ideal, kita akan lebih berhati-hati dalam berpikir mengenai argumen yang akan diberikan saat kondisi formal. Namun saat kondisi tak lagi ideal, maka kita akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal (periferal).

Heuristic

Kebalikan dari model Elaborasi, model ini menjelaskan bahwa sikap kita terbentuk secara cepat dan mudah, tanpa melakukan analisis untung rugi sebelumnya. Saat kita terganggu, tidak dilibatkan, atau tidak diinformasikan suatu masalah, kita akan lebih memperhatikan pada pertimbangan-pertimbangan seperti betapa menariknya komunikator saat itu atau apakah saat itu kita merasa sepakat dengan mereka. Dalam kondisi itu, berarti kita hanya mengandalkan pada keadaan heuristic (petunjuk sederhana) atau pada tanda-tanda eksternal (periferal) untuk menentukan sikap terakhir kita tentang objek atau isu.

PERUBAHAN SIKAP

Sikap yang dimiliki seseorang berkembang dan karenanya dapat pula berubah. Perubahan sikap dapat disebabkan oleh pengalaman atau hal-hal baru yang diperoleh dari orang lain atau dari media massa. Perubahan sikap merupakan hasil dari komunikasi persuasif. Berubahnya sikap adalah akibat langsung dari bujukan (persuasif), yaitu sebuah bentuk pengaruh sosial yang bertujuan mengubah keyakinan, perasaan, dan perilaku seseorang. Efektivitas persuasi ditentukan oleh kualitas sumber atau komunikator yang melakukan persuasi, isi dan penyajian pesan yang persuasif, motif serta kemampuan audience.
Berikut ini komponen komunikasi persuasi yang mempengaruhi sikap yaitu:

1. Sumber

Informasi pertama yang orang terima dari pesan persuasif adalah karakteristik source (sumber atau komunikator) yang menyampaikan pesan. Ada dua variabel yang mempengaruhi sumber, yaitu: 

a) Kredibilitas

Sebuah pesan dapat lebih persuasi dan menghasilkan perubahan sikap yang lebih besar ketika komunikator dianggap memiliki kredibilitas. Komunikator dapat dianggap lebih kredibel jika terlihat memiliki keahlian (pengetahuan) dan dapat dipercaya.

b) Daya tarik

Daya tarik komunikator merupakan hal pent ing dalam mempersuasi orang. Misalnya, sebuah perusahaan mengiklankan produknya di media massa dengan menggunakan selebritis yang mempunyai reputasi di bidang tertentu untuk menarik perhatian konsumen.
Terdapat tiga macam daya tarik, yaitu:

  • (1) penampilan fisik,
  • (2) power, dan
  • (3) kesamaan dengan penerima pesan.

2. Pesan

Elemen pesan yang memiliki lebih banyak variabel yang membangun efek untuk mempersuasi. Kualitas pesan persuasif yang berdampak pada perubahan sikap, meliputi:

a) Posisi

Semakin suatu pesan dekat dengan posisi atau sudut pandang seseorang pada saat itu, semakin mudah orang tersebut dalam menerima pesan.

b) Isi Pesan

Isi pesan merupakan salah satu elemen yang dapat mempersuasi penerima pesan untuk 
mengubah sikap. Dalam dunia periklanan, isi pesan atau slogan suatu produk dibuat sebisa mungkin untuk dapat meresap ke dalam benak konsumen. Berikut adalah hal-hal yang mempengaruhi dampak persuasif isi pesan, yaitu:

  • Kesederhanaan,
  • Daya tarik emosional,
  • Kepentingan pribadi,
  • Penyajian/Gaya penyampaian pesan.

3. Audience (Khalayak, Penerima Pesan)

Karakterist ik audiens akan menentukan mana komunikator yang kredibel atau atraktif, mana pesan yang logis, dapat diingat atau seimbang. Berikut hal-hal yang mempengaruhi audiens adalah:

a) Attention (Perhatian)

Pesan yang muncul di media massa tidak dapat mempersuasi audiens yang tidak menaruh 
perhatian terhadapnya. Berikut hal-hal yang berkaitan dengan perhatian audiens, yaitu: 

  • Selective Exposure (Terpaan Selektif) kecenderungan seseorang akan memilih pesan yang sesuai dengan sudut pandang kita, dan menghindari informasi lainnya. 
  • Ego Involvement (Keterlibatan Diri) keterlibatan dengan sesuatu yang membuat kita kurang menerima hal lainnya. Semakin seseorang terlibat dengan sikapnya terhadap sesuatu, semakin kurang menerima posisi lain. 
Contohnya, pendukung suatu partai akan tidak menyukai partai saingannya.

b) Karakteristik personal

Penerimaan pesan persuasif dapat berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainnya. Beberapa karakteristik pribadi yang mempengaruhi individu dalam menerima pesan, yaitu:
Umur. Berdasarkan masa-masa yang mudah dipengaruhi, umur anak-anak dan remaja(18-25 tahun) memiliki sikap yang kurang stabil dibandingkan orang dewasa. 
Kebutuhan. Sebuah pesan akan lebih persuasif jika sesuai dengan kebutuhan penerima pesan. Para pengiklan akan mengident ifikasi kebutuhan khalayak, kemudian menawarkan janji-janji yang sesuai untuk, memenuhi kebutuhan tersebut.

4. Efek Situasional

Persuasi tidak hanya dihasilkan dari komunikator, pesan, dan penerima pesan. Ada beberapa hal yang terjadi dalam proses berlangsungnya komunikasi persuasif, dan dampak pentingnya bagi perubahan sikap, yaitu: 

a) Message Density (Kerapatan Pesan)

Banyaknya pesan yang datang dalam waktu singkat akan mempengaruhi kita. Contoh yang paling nyata adalah banyaknya iklan yang mengikuti suatu program acara televisi. Biasanya iklan yang muncul berasal dari kategori produk yang sama, sehingga sebuah produk akan saling berperang dalam menyampaikan pesan persuasif kepada audiens. 

b) Repetisi (Pengulangan)

Seseorang akan terbiasa terhadap suatu pesan persuasif disebabkan adanya pengulangan pesan. Pengulangan pesan akan menyebabkan perubahan sikap. 

c) Distraction (Gangguan/Pengalih Perhatian)

Penerima pesan akan membuat argumen perlawanan terhadap pesan yang diterimanya. Akibatnya, kekuatan persuasi pesan akan berkurang.

Sumber

Fillamenta,N.2019.Psikologi Komunikasi Sebuah Pengantar.Yogyakarta:SapuLidi

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url